Our Mission
  • Kepuasan Anda Menjadi Tujuan Utama Kami

  • Cheap, Fun n Memorable

  • Berpengalaman lebih dari 5 Tahun

Homestay Pulau Pramuka – Madura Mempunyai Pulau Gili Secantik di Lombok

Homestay Pulau Pramuka – Pulau Madura, semakin menarik untuk dikunjungi beberapa traveler, sejak ada Jembatan Suramadu. Namun tahukah beberapa traveler, di dekat Sumenep, Madura, ada Pulau Gili Labak yang secantik pulau Gili di Lombok. Bila bicara perihal tempat wisata yang ada di kota Sumenep di Madura, mungkin saja yang segera terbersit dalam pikiran kita yaitu pantai Lombang yang populer lantaran cemara udangnya atau makam raja-raja Sumenep yang umum di kenal dengan sebutan Asta Tinggi.

Madura Mempunyai Pulau Gili Secantik di Lombok

Apabila Anda tengah berplesiran di Sumenep, tak ada kelirunya untuk coba berkunjung ke satu diantara pulau terpencil nan eksotis, yaitu Pulau Gili Labak. Ditanggung Anda akan tidak menyesal berpetualang ke pulau yang satu ini. Saat tempuh dari kota Sumenep ke pelabuhan Kalianget lebih kurang 20 menit. Sesungguhnya dari pelabuhan Kalianget ini kita dapat lakukan pelayaran ke pulau Gili Labak dengan menyewa perahu nelayan.

Baiknya Anda menyewa perahu sekian hari pada awal mulanya, lantaran belum pasti ada perahu yang melayani pelayaran ke Pulau Gili Labak setiap harinya. Namun saya pilih alternatif lain untuk menuju ke Gili Labak, yaitu lewat Pulau Talango yg tidak jauh dari pelabuhan Kalianget. Terkecuali lantaran saat pelayarannya ke Gili Labak lebih singkat, juga kebetulan ada rekan saya yang tinggal di pulau Talango mau turut dan ke pulau Gili Labak. Saya pikir bakal lebih seru bila pergi ramai-ramai.

Untuk hingga ke Pulau Talango diperlukan saat lebih kurang 10-15 menit dengan menaiki perahu. Biaya perahunya sangatlah murah, cuma Rp 2000/orang, sedang bila membawa sepeda motor dikenakan penambahan cost sebesar Rp 5. 000. Sesampainya di Pulau Talango, kami disambut oleh rekan lama kami serta mengajak singgah terlebih dulu ke tempat tinggalnya untuk sebatas bersilaturrahmi, lantaran waktu itu masih juga dalam situasi lebaran.

Rekan kami tersebut yang menolong mencarikan perahu untuk disewa ke Pulau Gili Labak, lantaran dia mempunyai banyak kanalan nelayan-nelayan serta memahami benar tentang akses ke Pulau Gili Labak. Harga sewa perahunya Rp 500.000 dengan kemampuan 10-15 orang. Sesudah seluruhnya perlengkapan sudah siap, lantas kami bertujuh segera naik ke perahu untuk mengawali petualangan menuju Pulau Gili Labak.

Oh ya, janganlah lupa bawa bekal makanan serta minuman ya, lantaran di Gili Labak tak ada warung. Sesudah dua jam mengarungi lautan, pulau Gili Labak mulai tampak. Sungguh tak sabar kami mau selekasnya menginjakkan kaki di pulau itu. 30 Menit lalu, jangkar sudah ditancapkan, sinyal bahwa perahu kami bakal bertumpu di pantai Pulau Gili Labak.

Air lautnya sangatlah jernih, hingga kita bisa lihat terumbu karang serta biota laut yang lain. Pasir pantainya juga putih bersih. Cuaca waktu itu sangatlah panas, hingga kami mengambil keputusan untuk beristirahat sesaat dirumah warga. Warga di pulau ini sangatlah ramah serta baik pada wisatawan.

Bhs mereka keseharian yaitu bhs Madura, namun mereka juga fasih berbahasa Indonesia lho. Pulau Gili Labak ini masih tetap sangatlah sepi, cuma terdapat banyak rumah masyarakat. Untuk wisatawan yang bertandang ke pulau ini, diinginkan berperilaku serta kenakan pakaian sopan, lantaran masyarakat disini masih tetap sangatlah menjunjung tinggi kebiasaan istiadat serta etika agama.

Disini tak ada air tawar, tetapi air payau yang dipakai untuk memasak, diminum, serta MCK (Mandi, Bersihkan, Kakus). Begitupun dengan listrik, lantaran jaringan listrik masih tetap belum hingga ke pulau ini, masyarakat di sini memakai panel surya (mutakhir juga ya mereka). Untung saja pulau ini masih tetap ter-cover jaringan handphone. Ya, dapat disebutkan sarana di pulau ini masih tetap sangatlah minim.

Sesudah senang berbincang-bincang dengan masyarakat Pulau Gili Labak, lantas kesibukan kami setelah itu yaitu berfoto narsis di tepi pantai. Lalu kami mengelilingi pesisir pantai pulau Gili Labak yg tidak demikian luas ini. Saat tunjukkan jam 16. 00 WIB, kami mesti meninggalkan pulau cantik ini dengan perasaan sedikit kecewa, lantaran tak memiliki kesempatan melihat sunset di pulau ini. Nelayan yang mengantarkan kami, menjelaskan bahwa makin sore, air laut bakal makin surut serta dibawah ada banyak karang, bila dipaksakan bisa mengakibatkan kerusakan perahu kami. Dengan argumen keamanan, kami pada akhirnya menuruti pengucapan nelayan itu. Sesungguhnya mungkin bermalam di pulau ini dengan menumpang dirumah warga, tetapi kami tak membawa perlengkapan yang cukup agar bisa bermalam di sini.

Sesudah berpamitan ke warga, kami selekasnya naik perahu serta lakukan perjalanan menuju kota Sumenep. By the way, saat yang paling pas berkunjung ke Pulau Gili Labak menurut beberapa nelayan yaitu seputar bln. September, lantaran ombak tak demikian besar. Ok, demikian dahulu narasi perjalanan saya ke Pulau Gili Labak, semoga menaikkan rekomendasi obyek wisata untuk rekan-rekan traveler sekalian. Selamat berlibur!

Related posts