Our Mission
  • Kepuasan Anda Menjadi Tujuan Utama Kami

  • Cheap, Fun n Memorable

  • Berpengalaman lebih dari 5 Tahun

Liburan Pulau Tidung – Banyak yang Unik di Pulau Kojadoi, Maumere

Liburan pulau tidung – Satu pulau tidak cuma dikenang dengan keindahan alam serta keanekaragaman budaya saja. Satu pulau juga dikenang lantaran banyak kekhasan yang dapat didapati wisatawan, seperti Pulau Kojadoi, Maumere. Apa sajakah ya? Indonesia untuk negara kepulauan menaruh potensi pariwisata yang mengagumkan kaya. Ada yang telah tergali, ada yang belum. Satu diantaranya yaitu Pulau Kojadoi yang ada di Maumere, Flores dengan adanya banyak narasi unik disana.

Banyak yang Unik di Pulau Kojadoi, Maumere

Pada akhirnya tiba juga ajakan pesiar ke Pulau Kojadoi. Saya penasaran dengan pulau ini, lantaran dimuka kehadiran saya di Maumere seputar 3 th. yang lalu, rekan saya mengajak saya ke pulau ini. Namun sayangnya, saat itu saya sedikit sakit serta pada akhirnya pilih mendekam dirumah.

Menurut pembicaraan warga asli sini, nama Kojadoi dulu didapatkan dari Raja Maumere. Kojadoi datang dari kata Koja yang berarti kenari serta Pacar yang berarti kecil. Namun tak tahu mengapa saya tak temukan satupun pohon kenari disini. Dengan cara geografis, Desa Kojadoi terdapat di lokasi pulau-pulau kecil di samping utara Laut Flores, terpisah dari beberapa besar lokasi Kabupaten Sikka yang terdapat di daratan Pulau Flores. Pulau Kojadoi yang terhitung dalam lokasi Kecamatan Alor Timur yang berjarak 28 KM dari Pulau Kojadoi dan mesti ditempuh dengan jalur laut serta darat.

Sesungguhnya terdapat beberapa jalur penyebrangan menuju Pulau ini. Kebetulan saya menyebrang dari TPI (Tempat Pelelangan Ikan) di Maumere. Memakai kapal kayu dengan mesin engkol, Saya beserta kurang lebih 20 penumpang yang lain mengarungi laut Flores sepanjang lebih kurang 2 jam.

Pada akhirnya sesudah 2 jam di Laut, saya masuk pelabuhan Pulau ini, namanya pelabuhan La Malino yang lebih kurang berarti bersih, tenang, sama sesuai situasi laut seputar dermaga ini yang tenang hampir tiada ombak. Pulau ini ditempati seputar 150 rumah tangga yang beberapa besar adalah suku Bajo. Menurut narasi rekan saya yang masyarakat asli Pulau ini, nenek moyang Pulau Kojadoi ini datang dari Buton. Mata pencaharian masyarakat di sini yaitu nelayan serta berladang.

Dulu pulau ini pernah jaya lantaran hasil pertanian rumput lautnya. Namun lantaran satu karena, tiba-tiba saja rumput laut tak dapat lagi tumbuh di pulau ini. Di Pulau ini ada suatu jembatan unik yang menghubungkan pada Pulau Kojadoi dengan Pulau Kojagete. Jembatan ini unik lantaran tersusun diatas tumpukan batu karang. Jembatan yang memiliki panjang seputar 500 mtr. ini cuma dapat dilewati dengan jalan kaki, itupun mesti waspada supaya kaki tak terluka terkena karang. Menurut rekan saya jembatan ini bakal terbenam jika air laut pasang.

Saya memiliki kesempatan menginap di Pulau ini. Sumber listriknya datang dari panel matahari yang terpasang di nyaris tiap-tiap rumah masyarakat. Beberapa ada yang tetap memakai genset diesel untuk sumber listrik. Butuh di kenali, saat siang hari, listrik tak menyala di pulau ini. Listrik cuma dapat di nikmati saat malam hari.

Kebetulan berwisata bahari jadi kurang afdol terasa bila saya tak mengabadikan sunrise. Sembari nikmati hawa pagi di Pulau ini saya bangun pagi serta selekasnya mempersiapkan kamera. Langit tengah baik, matahari nampak dari balik pegunungan. Saya berusaha untuk menaiki bukit batu yang ada di pulau ini untuk mengabadikan pemukiman warga. Memanglah tak terlampau tinggi, namun cukup melelahkan, terlebih matahari yang semakin meninggi serta membakar kulit, keringat bercucuran membasahi kamera saya. Namun terpuaskan sesudah nikmati panorama pulau ini dari atas bukit.

Sesudah bersantap siang dengan warga seputar, pada akhirnya saya mesti kembali ke pulau seberang. Kembali dengan perahu kayu bermesin engkol kesempatan ini tiada penutup, saya mesti rasakan terpanggang matahari sepanjang lebih kurang satu jam. Sekianlah perjalanan saya ke Pulau Kojadoi, suatu pengalaman yang bernilai serta unik. Satu hal yang tetap jadi pertanyaan saya, siapa yang membuat batu-batu vulkanik itu sampai jadi dua buah bukit yang tadi saya daki? Mengapa batu vulkanik? mengapa bukan hanya karang seperti pulau-pulau biasanya? Saya bertanya ke rekan saya yang asli warga disana, dia jawab tidak paham. Pertanyaan sebagai suatu misteri yg tidak sempat terungkap di Pulau Kojadoi.

Related posts