Our Mission
  • Kepuasan Anda Menjadi Tujuan Utama Kami

  • Cheap, Fun n Memorable

  • Berpengalaman lebih dari 5 Tahun

Pulau Pramuka Murah – Pura Uluwatu, Pesona yang Tidak Lekang oleh Waktu

Pulau Pramuka Murah – Bali tak salah dikatakan sebagai Pulau Dewata. Tiap-tiap pojok tempatnya cantik untuk disaksikan. Keluhuran budaya serta agama Hindu tertuang di banyak tempat, satu diantaranya Pura Uluwatu.

Pura Uluwatu, Pesona yang Tidak Lekang oleh Waktu

Siang itu cuaca cerah, kami berkendara menuju semenanjung selatan Bali. Maksud utama kami yaitu Pura Uluwatu, pura suci untuk umat Hindu yang dikira untuk tempat memohon karunia untuk membenahi kehidupan di bumi ini.

Ini pertama kalinya kami berkunjung ke Pura Uluwatu.  Matahari telah tak pas di atas kepala, waktu kami usai santap siang di satu diantara kedai nasi tempong yang ada tak jauh dari GWK, lalu kami mengambil keputusan segera tancap gas ke maksud utama kami.

Jalan Uluwatu saat ini telah makin ramai, tidak sama dengan 4-5 th. yang lalu. Walaupun jaraknya cuma sebagian menit saja dari Jimbaran, yang lebih dahulu di kenal beberapa pelancong, Uluwatu kelihatannya tetap belum tersentuh waktu itu. Belum banyak wisatawan wara-wiri ke tempat ini, terkecuali untuk berkunjung ke Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana untuk lihat patung Dewa Wisnu memiliki ukuran raksasa serta Garuda sebagai tunggangannya.

Bila saat ini janganlah di tanya, jalan Uluwatu saat ini telah mempunyai jam-jam macet terlebih di ruas jalan menuju persimpangan Ungasan. Tempat makan kaki lima, sampai sekelas kafe, gampang ditemukan di ruas jalan ini, begitupun dengan mini market sampai swalayan.

Janganlah lupa juga, bila dahulu cuma satu atau dua resor megah yang ada di Uluwatu, saat ini bersamaan dengan ramainya wisatawan yang datang baik domestik ataupun mancanegara sarana akomodasi untuk beragam tingkatan juga makin gampang didapati. 

Semenanjung selatan Bali nyatanya menyembunyikan banyak pesona yang menanti untuk dijelajahi, terlebih pantainya. Sebut saja Pantai Pandawa yang baru di kenal, tetapi segera melejit popularitasnya dikalangan wisatawan. Atau Pantai Balangan yang mempunyai tebing berlatar belakang laut terlepas serta jadi tempat paling disenangi pasangan untuk mengucap janji setia. Pantai Padang Padang serta Bingin sebagai surganya peselancar atau Pantai Yang Nyang serta Green Bowl yang kecantikannya sungguh sebanding dengan perjalanan yang perlu ditempuh untuk meraih keduanya. Sedang Pura Uluwatu sendiri yaitu satu dari demikian magnet yang senantiasa sukses memikat wisatawan.

Maksud kami makin dekat ditandai dengan gapura Selamat Datang yang barusan kami lalui. Sebagian menit lalu kami telah tiba di portal penjagaan serta membayar dua ribu rupiah pada petugas untuk layanan parkir motor. Areal parkir pura cukup luas serta teratur, juga kelihatannya, dapat menyimpan beberapa puluh bus sekalian, walau beberapa dipakai untuk tempat berjualan berbentuk jejeran kios serta kedai minuman. Sesudah membayar ticket masuk sebesar dua puluh ribu rupiah kami diberikan Senteng (selendang) untuk diikatkan di pinggang sebelum saat masuk ruang pura.

Senteng dalam keyakinan Hindu mempunyai nilai utama untuk lambang yang berarti mengatur emosi serta beberapa hal jelek yang dipunyai manusia serta harus dikenakan sebelum saat masuk ruang suci seperti pura. Oya, benar-benar utama menghiraukan peringatan penjaga loket untuk lebih dahulu menaruh kacamata, topi, jepit rambut serta aksesori yang lain yang gampang terlepas. Lantaran monyet-monyet di sini yang diakui untuk penjaga kesucian pura populer jahil.

Sebentar masuk ruang pura kami dihampiri seseorang nenek yang tawarkan potongan buah yang dibungkus dalam plastik kecil. " Untuk monyet. Dua ribu saja, " tuturnya sembari tersenyum, kami juga mengambil dua bungkus. Serta benar. Baru sebagian langkah saja kami telah dihadang kawanan monyet yang menagih di beri makanan. Satu diantara dari kawanan itu juga agresif melompat ke punggung lalu memanjat ke bahu agar dapat mencapai bungkusan buah di tangan kiri kami. Setelah itu dapat ditebak, dalam waktu relatif cepat bungkusan buah tadi telah beralih tangan tiada pernah di buka. Untunglah kacamata yang umum kami gunakan telah duduk manis didalam tas. Bila tak? pasti telah di ambil monyet.

Hingga di pelataran pura kami tak segera menuju ke pura, tetapi menyusuri tebing di segi kiri lebih dahulu. Pinggiran tebing di segi kiri berbatas pagar beton serta berundak-undak sesuaikan kontur hingga aman dilalui. Meskipun demikian, waktu itu kami lihat tetap ada saja turis yang nekat melompat keluar pagar cuma supaya dapat berpose dipucuk tebing dengan latar belakang pura.

Panggung pertunjukan tari kecak yang dipentaskan tiap-tiap mendekati matahari tenggelam itu juga ada di segi ini dengan pintu masuk terpisah yang cuma dibatasi dengan pagar tumbuhan. Konon panggung ini dapat menyimpan sampai 700 orang serta letak diambil sestrategis barangkali dengan panorama terlepas ke Samudera Hindia serta makin indah saat matahari tenggelam.

Rasa mau tahu membawa kami meneruskan perjalanan sampai pagar pembatas habis. Melalui jalan setapak di antara rimba serta sesekali dikejutkan dengan kawanan monyet yang melompat dari satu pohon ke pohon yang lain.

Nyatanya panorama diujung tebing kiri tidak kalah cantik. Hamparan rumput hijau fresh serta pohon-pohon meluas sampai ke bukit di satu segi bertemu segera dengan laut terlepas di segi yang lain. Mengagumi akan sekalian bersukur dapat nikmati mahakarya Tuhan Yang Maha Esa.

Senang dengan acara narsis serta selfie, kami lalu kembali menuju ke pura utama yang tempatnya ada di depan pelataran. Pura Uluwatu ada di ujung tebing yang menjorok ke laut dengan ketinggian meraih nyaris 100 mtr. di atas permukaan laut. Kedudukannya yang berhadap-hadapan segera dengan tiga pura utama yang lain yakni Pura Andakasa, Pura Batur serta Pura Besakih, bikin Pura Uluwatu memperoleh kemampuan spiritual yang dipercaya bisa berikan anugrah keseimbangan hidup yang paripurna untuk umat Hindu.

Tetapi, untuk melindungi kesuciannya, Pura Uluwatu cuma terbuka untuk yang bersembahyang saja. Pengunjung lain ataupun wisatawan cuma dapat lihat dari luar pagar setinggi dada yang berlapis batu kapur. kami baru mengerti bila dari demikian banyak kawanan monyet yang tampak nyaris di tiap-tiap pojok nyatanya malah tak tampak di seputar bangunan pura. Jikalau ada, cuma satu atau dua ekor saja itupun di pagar beton pembatas tebing segi kanan saja. Kenapa dapat demikian? Entahlah.

Related posts