Our Mission
  • Kepuasan Anda Menjadi Tujuan Utama Kami

  • Cheap, Fun n Memorable

  • Berpengalaman lebih dari 5 Tahun

Tour Pulau Pari – Tambora Diusulkan Jadi Ekomuseum

Tour Pulau Pari – Menyambut 200 th. letusan Gunung Tambora, Pusat Arkeologi Nasional mereferensikan situs Tambora di Desa Oi Bura, Tambora, Bima, Nusa Tenggara Barat, untuk ekomuseum. Ditempat ini, pengunjung dapat belajar histori serta peradaban.

Tambora Diusulkan Jadi Ekomuseum

Ketua Tim Riset situs Tambora Sony Wibisono dari Pusat Arkeologi Nasional (Pusarnas) menyampaikan, penetapan situs Tambora untuk ekomuseum benar-benar utama untuk mengangkat kembali Tambora untuk obyek wisata, tempat evaluasi histori, tempat konservasi sumber daya alam (SDA), serta fasilitas pemberdayaan orang-orang. ”Kami berikan referensi bagaimana memakai situs ini untuk fasilitas evaluasi. Kita semua paham bahwasanya histori letusan Tambora dulu sempat merubah dunia, ” tutur Sony, Rabu (9/7/2014), di Jakarta.

Bln. April 1815, Gunung Tambora meletus serta menewaskan seputar 10. 000 jiwa. Juga, dampak kelanjutan letusan gunung ini ikut merubah iklim dunia serta membawa korban jiwa semakin besar, 71. 000-91. 000 jiwa.

Pas 200 th. peringatan letusan Tambora, Pusarnas pada th. 2015 bakal mempresentasikan hasil-hasil riset yang sudah dikerjakan di situs Tambora, Nusa Tenggara Barat. Dalam peluang ini, bakal dipertunjukkan juga simulasi permukiman orang-orang Tambora sebelum saat letusan Tambora menghancurkannya.

Temuan-temuan situs Tambora benar-benar khusus lantaran ditemukan dalam keadaan relatif utuh. ”Bersama Balai Arkeologi Denpasar, kami sudah mengekskavasi suatu kompleks permukiman yang terkubur material vulkanik Tambora dengan keadaan komplit, dimulai dari batu penopang, kayu, lumpang, tiang, bajak, pagar rumah, tanduk rusa, sampai tali yang rata-rata sudah jadi arang lantaran didera awan panas, ” tutur Sony.

Untuk melindungi supaya artefak- artefak temuan tak hancur, Pusarnas menggandeng Balai Konservasi Borobudur. Dengan tehnis spesial, beberapa barang temuan itu diawetkan. Menurut Sony, temuan-temuan ini dapat menginterpretasikan beberapa cara hidup orang- orang waktu itu. Walau kondisinya sudah rapuh, di situs ini terkuak wujud awal rumah panggung rakyat Tambora memiliki ukuran 6, 5 mtr. x 3, 5 mtr. yang hancur tertimbun material vulkanik dengan ketebalan 2-4 mtr.. ”Situs ini ada di ketinggian 640 mtr. diatas permukaan laut seputar 18 km. dari puncak Tambora. Supaya ingatan histori terangkat lagi, kami mereferensikan tempat ini untuk ekomuseum yang diisi koleksi arkeologi juga sekalian membawa pesan-pesan untuk melindungi ekologi, seperti bagaimana dulu orang-orang Tambora belajar menghormati kearifan alam, ” katanya.

Gunung Tambora yang masuk dalam kelompok maksud pariwisata berbasis petualangan sampai kini kurang terperhatikan lantaran keadaan alamnya yang berbentuk padang pasir gersang serta susah dibuka. Karenanya, dengan pencanangan situs Tambora untuk ekomuseum diinginkan orang-orang makin ketertarikan bertandang ke tempat bersejarah ini.

Peradaban yang tertimbun Indonesia yang ada di jejeran cincin api gunung api menaruh histori panjang bencana erupsi. Tambora yaitu satu diantara misal dari beberapa peradaban di Tanah Air yang sempat tertimbun letusan vulkanik.

Di Rekanggung, Jawa Tengah, th. 971 Masehi, Gunung Sindoro juga menumpuk peradaban Mataram Kuno Liyangan yang ada di lereng gunung itu. Menurut Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta Siswanto, penemuan situs ini adalah bukti riil kisah-kisah histori Mataram Kuno yang sampai kini cuma terpahat di relief-relief candi. ”Kami selalu membuka semua tata ruangan Liyangan hingga ketemu batas terluarnya, ” kata Siswanto.

Related posts