Our Mission
  • Kepuasan Anda Menjadi Tujuan Utama Kami

  • Cheap, Fun n Memorable

  • Berpengalaman lebih dari 5 Tahun

Trip Pulau Tidung – Awas! Banyak Copet di Menara Eiffel Paris

Trip Pulau Tidung – Beberapa ratus wisatawan Indonesia kehilangan paspor di Paris sampai September 2014. Copet di kota-kota wisata di Eropa bukanlah isapan jempol belaka. Bahkan juga di Menara Eiffel, papan siaga copet itu terpampang di mana-mana. Seperti kami saksikan, papan siaga copet mudah ditemukan. Terlebih saat antre naik ke Menara Eiffel.
Awas! Banyak Copet di Menara Eiffel ParisPapan pemberi tanda berbunyi seperti ‘Attention Aux Pickpockets/Beware of Pickpockets’ dengan kata lain ‘Awas copet’ bertebaran di tiap-tiap sudutnya. Tidak hanya papan pemberi tanda, videotron yang dipasang ditempat antre untuk naik ke Eiffel juga
melukiskan animasi perihal siaga copet itu.

Begini kurang lebih animasinya : terdapat banyak orang mengantre, satu diantaranya membawa tas yang ditempatkan di belakang. Seseorang yang berbaris dibagian paling belakang memanjangkan tangan merogoh tas di depannya dengan cepat. Petugas di depan pintu masuk untuk naik ke Menara Eiffel juga mewanti-wanti. Menurut sang petugas, setiap hari ada saja pengunjung yang kecopetan. Masalah copet ini, menurut tur leader rombongan, Awen Lee (31) memanglah kronis di Eropa.

Pikirkan, untuk masuk ke Eiffel saja mereka mesti merogoh kocek berapakah? Keluar-keluar ya mesti balik modal dong. Bukan hanya balik modal, bila dapat mesti cuan (untung),” terang Awen. Untuk naik ke Menara Eiffel, tingkat ke-2 saja, ticket yang perlu dibeli yaitu 7,5 Euro atau seputar Rp 117.000. Alhasil, waktu didalam lift, anggota rombongan yang sejumlah 30 orang ini sama-sama mengingatkan serta mewaspadai orang asing. Sekurang-kurangnya, bila keroyokan dapat bikin copet sedikit ciut nyali.

Awen menyampaikan, tidak cuma di Menara Eiffel, di Paris serta kota-kota turis di Eropa yang lain, copet itu sangatlah nekat serta bermodal. Bahkan juga pada awal mulanya di lokasi Arc de Triomphe serta Galeries Lafayette, Awen bolak-balik mewanti-wanti dalam
bus. “Bila turun dari bus saksikan kiri-kanan ya. Disini banyak copet. Mereka tidak segan untuk mendekati serta merampas tas demikian saja. Copetnya bernyali sekali, ” papar pria lulusan sekolah pariwisata dari Swiss yang kerap jadi tur guide di Eropa ini.

Di Arc de Triomphe, tempat gerbang yang legendaris yang di bangun Napoleon Bonaparte itu, Awen hingga memberikan instruksi anggota rombongan untuk menyimpan seluruhnya barang berharganya didalam bus. Membawa barang sekedarnya saja. “Ayah, Ibu, kita tidak ingin ambillah resiko ya. Tinggalkan saja barang bernilai Anda
didalam bus. Bawa yang butuh. Bila hanya mau berfoto di Arc de Triomphe, bawa kamera saja. Yang lain ditinggal di bus. Agar saya yang jagalah di bus. Kita ketemu 30 menit lagi di point ini, ” tegas Awen.

Woro-woro masalah copet ini telah diteriakkan Awen waktu rombongan tiba di Kota Milan, Italia pada 4 September 2014 lantas. Menurut Awen, kota wisata di Eropa non Rusia yaitu kota dengan kriminil paling tinggi ke-2. Angka kriminil paling tinggi pertama
dipuncaki kota-kota di Rusia. “Disini ada asumsi, bila tas di depan, itu punya Anda. Bila tas di belakang, itu punya berbarengan,” selorohnya.

Di obyek wisata Gereja Santa Maria Delle Grazie serta Gereja Duomo di Milano umpamanya, Awen memberi instruksi siaga pada tanda-tanda khusus pencopet. Beberapa pencopet, umumnya imigran dari Afrika serta Eropa Timur, umumnya bekerja dalam grup. Sepanjang di Milan, Awen bahkan juga tidak segan mengingatkan supaya tidak meninggalkan tas waktu umpamanya, makan di hotel atau restoran. Beberapa pencopet ini dapat bergerak cepat waktu lihat ada tas ‘menganggur’.

Awen bahkan juga pernah mempunyai pengalaman tamunya dicopet waktu makan di hotel bintang 5 di Frankfurt, Jerman. “Hotelnya bintang 5, Rp 13 juta per malam. Tamu saya makan waktu sarapan, ambillah makanan, tas ditinggal. Balik-balik, tas telah hilang. Tasnya merk Hermes. Pikirkan, berapakah modalnya itu copet hingga dapat masuk hotel bintang 5 yang dijaga ketat, berdandan rapi seperti tamu hotel elegan, ” kisahnya.

Related posts