Our Mission
  • Kepuasan Anda Menjadi Tujuan Utama Kami

  • Cheap, Fun n Memorable

  • Berpengalaman lebih dari 5 Tahun

Wisata Jawa Barat Green Canyon – Penagi, Kampung di Atas Laut Natuna

Wisata Jawa Barat Green Canyon – Penagi yaitu suatu perkampungan unik yang ada diatas Laut Natuna, Kepulauan Riau. Pada saat lantas, Kampung Penagi adalah kampung pelabuhan yang sangat ramai. Begini sudut-sudutnya!
Penagi, Kampung di Atas Laut Natuna
Kampung Penagi dulunya adalah pusat ekonomi orang-orang di Kabupaten Natuna saat sebelum saat reformasi serta masih juga dalam lokasi Kabupaten Kepulauan Riau, bersamaan dengan terbentuknya Kabupaten Natuna th. 1999 dengan ibukota Ranai, perlahan-lahan namun pasti berlangsung pergeseran pusat ekonomi ke Ranai juga sebagai ibukota Kabupaten Natuna.

Jauh saat sebelum kemerdekaan RI, Pelabuhan Penagi adalah pintu masuk ke pulau Bunguran serta kapal-kapal dagang yang melintas Laut China Selatan, bakal berkunjung ke Penagi saat sebelum menlanjutkan perjalanan ke lokasi lain.

Karena sangat sibuknya kesibukan bongkar muat serta labuh jangkar di pelabuhan ini dari kapal-kapal dagang serta penumpang, jadikan desa nelayan ini juga sebagai pusat dagang di perairan Laut China Selatan.

Penagi nampak jadi perkampungan dagang yang komplit banyak sediakan beragam keperluan hidup baik kedai yang sediakan barang kelontong, kedai kain, kedai ” runcit ” (sembako), kedai kopi juga tempat hiburan malam.

Seiring berjalannya waktu, perkampungan nelayan ini semakin ramai bukan sekedar ditempati orang Melayu juga sebagai suku asli Pulau Bunguran namun juga warga China yang datang dengan kapal ” toa ko ” (kapal besar) dari China daratan. Rombongan warga China ini ada yang menetap di Penagi ada pula meneruskan perjalanan ke Sedanau serta Pulau Midai.

Ramainya Pelabuhan Penagi terkecuali letaknya yang strategis mempunyai alur laut yang dalam juga diapit Pulau Kemudi serta Pulau Jantai hingga laut di perairan Penagi tenang.
Ombak musim Utara yang umumnya besar serta ditakuti kapal-kapal dagang serta penumpang, tak pernah masuk ke pelabuhan Penagi.

Kemakmuran Penagi juga sebagai lokasi pelabuhan sangat dirasa orang-orang bahkan juga jejak kemakmuran itu sampai saat ini masih tetap bisa tampak dari rumah-rumah masyarakat yang ada di kampung Penagi.

Sesudah Natuna jadi Kabupaten, serta pusat perdagangan geser ke Ranai sebagi ibukota Kabupaten, jadi Kampung Penagi yang dulunya ramai serta repot dengan kesibukan perdagangan pada akhirnya ditinggalkan warganya. Bahkan juga tauke-tauke kaya juga geser dari Penagi.

Dalam saat otonomi saat ini Ranai semakin ramai serta tumbuh juga sebagai pusat ekonomi serta perdagangan. Jarak Penagi dengan Ranai cuma lima km. yang dipisahkan lapangan terbang pangkalan TNI AU.

Saat ini, kampung tua dengan beberapa ratus rumah panggung diatas air itu sudah sunyi. Tak ada lagi kedai kelontong, kedai kain, kedai runcit atau kedai kopi serta bongkat muat kapal dagang dan penumpang.

Dibangunnya pelabuhan Selat Lampa yang awal mulanya mempunyai tujuan untuk menyimpan minyak Pertamina, juga turut bikin sepi kampung Penagi. Kapal dagang serta kapal penumpang seperti Pelni geser ke Pelabuhan Selat Lampa.

Meskipun situasi Penagi telah beralih, tetapi kerukunan orang-orangnya tak beralih. Dari dahulu orang-orang Melayu serta China di Penagi hidup rukun damai ditandai dengan rumah beribadah yang berdampingan, yaitu Kelenteng Pu Tek Chi serta Surau Al Mukoramah.

Walau sekarang ini, Kampung Penagi bukanlah lagi jadi pusat perekonomian Natuana, namun kombinasi antarsuku serta tempat beribadah yang sama-sama berdekatan di Kampung Penagi, sudah jadi cermin toleransi antar warga bukan sekedar di Kabupaten Natuna yang berjuluk Negeri di Gerbang Utara namun juga keseluruhannya di lintas Laut China Selatan.

Related posts